Uncategorized

Menjaga Nadi Pangan, Mengharap Berkah Bumi: Bupati Soppeng Tegakkan Benteng Pertanian

10
×

Menjaga Nadi Pangan, Mengharap Berkah Bumi: Bupati Soppeng Tegakkan Benteng Pertanian

Sebarkan artikel ini

Keterangan Gambar: Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, saat menghadiri Rapat Koordinasi Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Kantor Gubernur Sulsel, Makassar, Kamis (9/7/2026).

MAKASSAR, — Di jantung Kota Makassar, di balik megahnya gedung pemerintahan, sebuah ikhtiar besar sedang dirajut. Di sanalah, Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, melangkahkan kaki, membawa titipan harapan para petani dari bumi Latemmamala. Panggilannya adalah untuk menghadiri Rapat Koordinasi Penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, yang berlangsung di Kantor Gubernur Sulsel pada Kamis (9/7/2026).

Suasana ruang rapat tampak sunyi, hanya deru mesin pendingin yang terdengar. Namun, di balik keheningan itu, ada kesungguhan yang terpancar dari wajah-wajah pemimpin daerah yang hadir. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, memimpin jalannya rapat dengan penuh wibawa. Di hadapannya, para bupati, wakil bupati, dan wali kota se-Sulawesi Selatan duduk tertegun, mendengarkan setiap arahan dengan penuh khidmat.

Penetapan LP2B bukanlah sekadar urusan administrasi atau angka-angka di atas kertas. Ia adalah wujud perlindungan terhadap lahan-lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan jiwa. Ia adalah benteng pertahanan dari derasnya arus alih fungsi lahan yang mengancam ketahanan pangan nasional.

“Tanah adalah anugerah Tuhan yang harus kita jaga dengan sebaik-baiknya,” ujar Nusron Wahid dalam sambutannya.

“Tanah bukan hanya modal ekonomi, tapi juga warisan untuk anak cucu kita.”

Pernyataan itu seolah bergema di hati para pemimpin daerah. Sulawesi Selatan, dengan predikatnya sebagai lumbung pangan di Pulau Sulawesi, memiliki tanggung jawab yang besar. Dengan luasan LP2B yang mencapai 660.638 hektare, Sulsel menjadi contoh bagi provinsi lain dalam hal pelestarian lahan pertanian. Namun, angka-angka itu tidaklah berarti apa-apa tanpa adanya komitmen yang kuat dari setiap daerah untuk melindunginya.

H. Suwardi Haseng, dengan tatapan yang penuh keyakinan, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Soppeng.

“Kami akan memastikan proses penetapan LP2B didasarkan pada data yang akurat, mutakhir, dan sesuai kondisi di lapangan,” tegasnya.

“Kami tidak akan membiarkan sejengkal pun lahan pertanian produktif beralih fungsi tanpa alasan yang jelas.”

Suara Suwardi mengalun dengan tenang, namun setiap kata yang diucapkannya mengandung makna yang mendalam. Ia menyadari bahwa di balik urusan administrasi ini, ada keringat dan air mata para petani yang harus dihargai. Ia menyadari bahwa tanah adalah harapan dan masa depan.

“Penetapan LP2B harus dilakukan secara cermat agar benar-benar melindungi lahan pertanian produktif tanpa mengabaikan kebutuhan pembangunan daerah,” imbuhnya.

Sinergi adalah kunci. Dalam rapat koordinasi ini, para pemimpin daerah berikrar untuk bekerja sama, saling mendukung, dan saling menguatkan. Mereka sadar bahwa perjuangan untuk menjaga ketahanan pangan tidak bisa dilakukan sendirian.

“Kami berharap rakor ini menjadi momentum untuk membangun sinergi yang lebih kuat antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota,” ujar salah satu bupati yang hadir.

Waktu terus bergulir, namun semangat untuk menjaga bumi dan kedaulatan pangan tidak akan pernah padam. Di luar gedung, matahari bersinar terik, seolah memberikan restu atas ikhtiar mulia para pemimpin daerah. Mereka kembali ke daerah masing-masing dengan membawa tekad yang bulat untuk menjadikan LP2B sebagai instrumen penting dalam menjaga ketersediaan pangan di masa mendatang.

Di kejauhan, para petani di sawah sedang sibuk menanam benih. Mereka tidak tahu tentang rapat koordinasi yang berlangsung di Makassar, namun mereka tahu bahwa tanah yang mereka injak adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga. Mereka tahu bahwa di balik setiap bulir padi yang mereka panen, ada doa dan harapan yang terpanjat. Dan di balik setiap kebijakan yang diambil oleh para pemimpin, ada tanggung jawab untuk menjaga nadi pangan, mengharap berkah bumi, dan mewariskan bumi yang subur untuk generasi yang akan datang. (FAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page