Uncategorized

Di Rumah Akar 72, Kerinduan Publik Menemukan Ruangnya

201
×

Di Rumah Akar 72, Kerinduan Publik Menemukan Ruangnya

Sebarkan artikel ini

Soppeng, Breaking Sulsel.co.id — Sore itu semula diperkirakan akan berlangsung sederhana. Sebuah undangan buka puasa di rumah seorang mantan bupati dua periode, lazimnya hanya dihadiri kerabat dekat dan sahabat lama. Dalam logika kekuasaan modern, mantan pejabat sering kali dianggap selesai bersama berakhirnya jabatan. Namun yang terjadi di Laburau, Kota Soppeng, Jumat (27/02/2026), justru membalik anggapan itu sepenuhnya.

Sekitar 500 meter sebelum mencapai kediaman H Andi Kaswadi Razak, arus lalu lintas telah dialihkan. Petugas Dinas Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (DLLAJ) tampak mengatur kendaraan yang memadati jalan dan terpaksa diparkir di badan jalan. Situasi tersebut bukan gambaran acara protokoler, melainkan penanda awal bahwa ada daya tarik sosial yang sedang bekerja sunyi, tetapi kuat.

Masya Allah. Ungkapan itu muncul spontan. Ribuan warga dari berbagai lapisan masyarakat hadir dengan kesadaran sendiri. Tanpa komando, tanpa mobilisasi, tanpa jarak sosial. Mereka datang bukan karena jabatan, bukan karena kekuasaan yang sedang digenggam, melainkan karena ingatan.

Momentum itu menegaskan satu hal penting: Akar bukan sekadar nama atau figur masa lalu. Ia telah menjelma menjadi simpul ingatan kolektif yang masih hidup di tengah masyarakat Soppeng. Keramaian tersebut bukan kerumunan seremonial, melainkan kerinduan yang menemukan ruangnya-ruang untuk bersua, menyapa, dan menjaga hubungan yang telah lama terbangun.

Pantauan media ini, acara buka puasa tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Soppeng, Komandan Kodim (Dandim), Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakandepag), para kepala SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Soppeng, tokoh masyarakat, tokoh adat, berbagai organisasi kemasyarakatan, serta insan pers. Kehadiran lintas unsur ini mempertegas bahwa peristiwa tersebut telah melampaui agenda personal dan berubah menjadi peristiwa sosial yang bermakna luas.

Dalam suasana itu, tampak Arham MSi La Palellung, Ketua Majelis Pendiri Perkumpulan Rumpun Wija Pemersatu Adat Nusantara (PERWIRA ADAT NUSANTARA), berjalan berdampingan dengan Andi Tantu Datu Galib, figur adat terkemuka yang dikenal aktif menjaga dan melestarikan kebudayaan Bugis di Kabupaten Soppeng. Kebersamaan dua figur adat ini menjadi simbol kuat bahwa nilai-nilai kultural masih memiliki ruang terhormat di tengah dinamika pemerintahan modern.

Dari perspektif adat, Arham MSi La Palellung menilai kehadiran ribuan warga tersebut sebagai penanda sosial yang jujur. Dalam adat Bugis-Soppeng, keramaian yang lahir tanpa komando disebut sebagai passeddingeng ati ketika hati masyarakat berkumpul dengan sendirinya.

“Ini bukan soal nostalgia kekuasaan, tetapi tentang hubungan sosial yang dirawat dengan adab dan siri’,” ujarnya.

Menurutnya, adat Bugis mengenal prinsip bahwa pemimpin sejati akan tetap dipanggil oleh masyarakatnya meski tidak lagi menjabat. Jabatan, kata Arham, memiliki masa, tetapi ingatan masyarakat memiliki umur yang jauh lebih panjang. “Kekuasaan bisa berakhir, tetapi jejak sosial tidak mudah dihapus. Di situlah adat bekerja,” katanya.

Ia menambahkan, dalam Pappaseng orang tua-tua Bugis, pemimpin yang baik bukan yang paling keras bersuara saat berkuasa, melainkan yang paling dikenang ketika kekuasaan ditanggalkan.

“Adat mengajarkan, jangan memutus akar dari jalan yang pernah membesarkan kita. Sebab siapa yang melupakan jasa dan hubungan, sedang merawat sepi di masa depan,” ujarnya dengan nada reflektif.

Buka puasa di Laburau itu pun berlangsung tanpa sekat. Warga duduk bersisian, berbincang, dan berbagi hidangan dalam suasana kekeluargaan. Tidak ada jarak antara yang pernah memerintah dan yang pernah diperintah. Di situlah adat Bugis-Soppeng bekerja secara alami tanpa pidato panjang, tanpa simbol berlebihan menjaga harmoni sosial melalui ingatan dan rasa hormat.

Bagi Arham, momentum tersebut adalah cermin bagi kepemimpinan hari ini. “Dalam masyarakat beradat, kekuasaan bukan satu-satunya ukuran. Yang paling lama hidup adalah ingatan kolektif. Siapa yang menjaga adab dan menghormati jasa orang lain, akan dijaga pula oleh masyarakatnya,” tutupnya.

Soppeng, pada akhirnya, masih merindukan akar. Bukan semata figur, melainkan nilai kedekatan, ketulusan, dan kepemimpinan yang membekas. Dan sore itu, Laburau menjadi saksi bahwa di negeri beradat, jabatan boleh berakhir, tetapi ingatan yang dirawat dengan adab akan selalu menemukan jalannya sendiri.(Rano/**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page