Soppeng

Lembah Soppeng Mengayun Harapan, Menyambut Jalinan Kasih Lintas Bangsa

957
×

Lembah Soppeng Mengayun Harapan, Menyambut Jalinan Kasih Lintas Bangsa

Sebarkan artikel ini

Keterangan Gambar: Bupati Soppeng bersama Mahasiswa FKM Unhas, Mahasiswa Korea, dan Mahasiswa Thailand

SEBUAH SIMFONI PERSAUDARAAN: Bupati Soppeng H. Suwardi Haseng (tengah, seragam dinas) berdiri penuh kehangatan bersama delegasi dosen FKM Unhas serta para mahasiswa internasional dari Korea Selatan dan Thailand di tangga Rumah Jabatan Bupati Soppeng, Selasa (30/6/2026). Senyum yang terkembang menjadi simbol bertemunya ketulusan lokal dan semangat global demi merajut masa depan kesehatan desa yang lebih cerah.

SOPPENG – Di ambang senja yang beranjak damai, Rumah Jabatan Bupati Soppeng, tempat bersemayamnya kehangatan kepemimpinan, membuka pintu hatinya lebar-lebar. Angin pegunungan Latemmamala seolah ikut bershalawat, mengiringi langkah para tamu yang datang membawa harapan dan ilmu, Selasa sore (30/6/2026).

Kedatangan sekelompok mahasiswa internasional peserta Nusantara International Summer Course on Public Health (NISC-PH) 2026 dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) menjadi saksi betapa ilmu tidak mengenal batas, dan persaudaraan dapat terjalin dari niat mulia membangun sesama.
Bupati Soppeng, H. Suwardi Haseng, dengan senyum ketulusan seorang ayah yang menyambut kepulangan anak-anaknya, duduk setara. Matanya berbinar, bukan sekadar melihat para akademisi muda, namun melihat masa depan yang lebih cerah, di mana kesehatan dan kesejahteraan masyarakat desa tidak lagi menjadi mimpi yang jauh.

Pertemuan ini bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah simfoni persahabatan dan kolaborasi demi kemanusiaan.

“Selamat datang di Bumi Latemmamala, rahim keikhlasan dan keramahtamahan,” sambut Bupati H. Suwardi Haseng, suaranya merdu menyentuh relung sanubari.

“Kehadiran kalian di sini adalah berkat dan rahmat Tuhan yang harus kita syukuri bersama. Soppeng adalah desa yang sedang merajut kemandirian, dan ilmu yang kalian bawa, dipadu dengan kerelaan hati untuk belajar dari kearifan lokal, akan menjadi benih kebaikan yang tumbuh subur.”

Ada getaran puitis dalam setiap kata-katanya, menegaskan bahwa kepemimpinan yang sejati adalah kepemimpinan yang melayani dengan hati.

Ke-11 mahasiswa tersebut, seolah pelangi lintas budaya, berasal dari penjuru dunia: Mahidol University Thailand (Pornpailin Vakjan, Puripat Nawangpha, Phiyaphat Methakitthanawong, Juthasinee Angsin, Siwaphon Wingchaiyaphum) dan Soonchunhyang University Korea Selatan (Lee Yejin, Chanyu Ju, Han Jieun, Jiwon Yeo, Kim Yein, Yoonjin Kim), bergabung dengan kelas internasional FKM Unhas. Didampingi oleh tulusnya 7 dosen pendamping FKM Unhas, Prof. Anwar, Dr. Owildan Wisudawan B, Dr. Hasnawati Amqam, Dr. Syamsuar, Basir, Nasrah, dan Dr. Rahayu Nurul Reski, mereka membawa serta semangat belajar yang membara.

Kunjungan lapangan selama tiga hari ini (30 Juni – 2 Juli 2026) akan membawa para mahasiswa ini ke urat nadi kehidupan desa: Ganra, Kaca, Manorang Salo, Lalabata Riaja, dan Pesse. Di sana, mereka tidak hanya akan menjadi pengamat, melainkan bagian dari detak kehidupan masyarakat.

Melalui praktik kesehatan dan program pemberdayaan, mereka akan merasakan hangatnya dekapan persaudaraan dan dinginnya embun pagi yang menyuburkan tanah pertanian. Ini adalah realisasi dari format hybrid NISC-PH 2026 yang lengkap, mulai dari kuliah online, community outreach, kunjungan puskesmas, hingga pertunjukan budaya.

Pertemuan di Rujab ini, lebih dari sekadar rilis, adalah sebuah showcase praktik pemberdayaan masyarakat lokal yang akan diperkenalkan ke dunia internasional. Soppeng bukan lagi daerah yang terisolasi, melainkan tujuan studi global yang kaya akan kearifan dan ketaatan.

Sesaat sebelum meninggalkan Rujab, salah seorang mahasiswa Korea Selatan dengan mata berbinar mencoba merangkai kata dalam bahasa yang didengarnya,

“Kelembutan, ketulusan, persaudaraan. Kami akan menjaganya dalam hati.”

Lembah Soppeng malam itu, di bawah taburan bintang, seolah tersenyum. Jejak langkah para mahasiswa ini kelak akan menjadi sebuah prasasti kemanusiaan, di mana ilmu bersemi di atas tanah keikhlasan, dan persaudaraan lintas bangsa menjadi pelita yang tidak akan pernah padam. (FAS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page