Prof. Pawennari Hijjang IKA SMAN 200 Soppeng. Narasumber Ethno Wellness Spa Bugis yang popular dengan sebutan Bedda Lotong

Makassar, Breaking SulSel.Co.Id — Era Distrupsi saat ini, menuntun kita untuk untuk selalu sigap untuk beradaptasi dengan segala kemungkinan perubahan yang ada. Inovasi dan kreativitas sangat dibutuhkan dalam rangka dapat mengimbangi akselarasi perkembangan revolusi industri 4.0 dan society 5.0. implikasinya masyarakat mulai terstimulasi dengan bermunculannya usaha-usaha kreatif dan inovatif pada sektor UMKM. Hari ini, mulai dari kawasan perkotaan sampai perkampungan desa kita disuguhkan oleh adanya integrasi dari produk modernitas dan potensi lokal yang dibalut dengan kreativitas usaha-usaha berciri lokalitas dengan nuansakekinian, sebut saja misalnya memaksimalkan penggunaan teknologi informasi (baca: media sosial) sebagai media promosi dan pemasaran produk yang merupakan hasil komoditas lakal. Ada berbagai macam contoh, usaha yang dimulai dengan modal ratusan ribu kini telah berkembang menjadi usaha yang dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Pelaku usaha dengan karakteristik tersebut dapat ditemukan disekitar kita baik itu saudara, tetangga, teman atau kita sendiri. Dari namanya UMKM memang memiliki kepanjangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), namun jangan salah si kecil ini memiliki kontribusi yang sangat besar dan krusial bagi perekonomian kita secara makro.

Tetapi dua tahun belakangan ini, kita mengalami dampak yang luar biasa terhadap adanya pandemi Covid-19 yang menyelimuti tatanan kehidupan kita yang berskala global. UMKM sebagai ujung tombak penggerak perekonomian pun ikut merasakan dampak dan keterpurukan karenanya. Inilah contoh perubahan dinamis dan transformatif yang sewaktu-waktu dapat menggoyahkan kemapanan tatanan yang ada. Sikap yang optimis, berpikiran terbuka, kreatif dan inovatif menjadi motor penggerak dari dalam (diri) kita untuk mengatasi persoalan yang kita hadapai.

Salah satu sektor yang paling terpuruk dari adanya Pandemi Covid-19 ini adalah sektor pariwisata, dan perdagangan. Salah Contohnya adalah Ethno Wellness Spa Bedda Lotong.

Organisasi bidang Ethno Wellness Spa di Indonesia; IWMA (Indonesia Wellness Master Association), WHEA (Wellness & Healthcare Entrepreneur Association) & IWSPA d/h INDSPA (Indonesia Wellness Spa Professional Association), bersama-sama bapak Presiden turut menanggulangi dampak pandemi Covid-19 yang dialami oleh sektor pariwisata dan perdagangan UKM pada umumnya dan Ethno Wellness Spa pada khususnya.

Sektor ini paling ambruk akibat dampak dari pandemi Covid-19, sehingga perlu upaya pemberdayaan, promosi dan pemasaran dari (di) dalam negeri maupun mancanegara agar pada masa pandemi ini, industri Ethno Wellness Spa dapat terus memelihara kualitas pelayanan dan produknya dan pasca pandemi dapat merebut pasar wisata dunia dengan kualitas pelayanan dan produk secara prima. Sehingga pada gilirannya usaha ini dapat tetap bertahan dan ‘terjamin’ keberlanjutannya.

Dalam upaya tersebut,  organisasi organisasi yang konsen terhadap Ethno Wellness Spa menyelenggarakan Festival Internasional Wellness Tourism Indonesia yang dimulai pada tanggal 1 sampai dengan tanggal 24 september 2021 secara online dengan tujuan untuk memulihkan perekonomian melalui budaya sehat Indonesia Senin. Festival ini bersifat Internasional karena melibatkan lebih kurang 12 negara bekerjasama dengan KBRI setempat maupun Diaspora yang ada di berbagai negara peserta.

Pada ajang mempromosikan kekayaan budaya Wellness Indonesia tersebut, sederetan nama nama pakar dan pembicara tampil, baik dari dalam dan luar negri untuk membawakan materi. Pada pelaksanaan itu tak ketinggalan salah seorang pakar dan guru besar Antropologi Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Makassar dan juga Alumni SMAN 200/1 Watansoppeng angkatan 1977  Prof. Dr. Pawennari Hijjang, MA  sebagai salah satu narasumber webinar yang bertajuk “Ethno Wellness Spa Bugis yang popular dengan sebutan Bedda Lotong”.

Prof. Pawennari Hijjang mendapat giliran presentasi pada tanggal 13 september 2021 dalam keterangan persnya mengatakan Ethno Spa Wellness khas bugis  akan dipaparkan landasan filosofi bedda lotong yang sebenarnya merupakan lulur alami yang banyak digunakan oleh  kaum wanita bugis di Sulawesi Selatan maupun yang domisili diluar di Sulawesi Selatan.

Lulur bedda lotong adalah lulur tradisional ala wanita bugis yang sudah terkenal sejak lama, dimana dahulunya lulur ini hanya digunakan oleh kalangan bangsawan, namun saat ini telah tersebar luas ujarnya diseluruh nusantara. Lulur ini disebut bedda lotong karena bahan dasarnya berasal dari ketan hitam. Lulur ini  diyakini mampu memutihkan dan membuat badan terlihat bersih, natural, awet muda dan elegan.

Tidak hanya itu bedda lotong dipercaya dapat mengangkat sel kulit mati pada kulit,  memutihkan kulit, mengencangkan kulit wajah maupun tubuh, mengecilkan pori-pori dan membuat kulit terlihat bersih dan cerah.

Dahulu bedda lotong hanya diproduksi oleh masyarakat untuk digunakan secara pribadi namun saat ini lulur bedda lotong pun telah banyak diproduksi untuk dikomersialkan ke seluruh wilyah Indonesia pungkasnya. (Redaksi)

breaking sulsel

Read Previous

KEGIATAN LOKAKARYA KURIKULUM MBKM FAKULTAS TEKNIK Universitas Cokroaminoto Makassar

Read Next

Polsek Marioriwawo Kawal Giat Vaksin 200 Pelajar