Fenomena Bakal Munculnya Kuda Hitam Di Pilkada Soppeng 2024 Mendatang

Soppeng, Breaking SulSel.Co.Id — Sekalipun Pilkada Soppeng masih tiga tahun lagi namun, issu sejumlah kandidat sudah bermunculan sejumlah nama marak dibicarakan dimedia – media sosial menambah riuhnya orang bermedsos semuanya pada mereka – reka siapa yang bakal menggantikan Bupati Soppeng H.A. Kaswadi Razak kelak. Selain Ketua DPRD Soppeng Saharuddin M Adam Partai Golkar dan Wakil Ketua 1 DPRD Soppeng Andi Mapparemma PDI Perjuangan, nama Ketua Komisi 1 DPRD Soppeng H. Rusman Partai Nasdem juga disebut berpeluang kuat maju dalam pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah 2024 mendatang.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Soppeng diera pemerintahan H.A. Soetomo yang sekarang ini menjabat Ketua Komisi 1 DPRD Kabupaten Soppeng H. Rusman yang bertqline HRM 377, itu disebut sebagai figur yang cocok untuk menduduki calon komputiter dalam pilkada soppeng mendatang karena, nama kuat bakal calon – bakal calon  yang beredar saat ini dianggap masih merepresentasikan kalangan akar rumput yang masanya tersebar di kawasan pedesaan dan pegunungan. “Soppeng kan nuansanya nasionalis religius, jadi bakal calon pilkada soppeng mendatang  idealnya harus juga dari figur yang merepresentasikan kawasan pedesaan dan daerah pinggiran yang banyak dihuni oleh pemilih nasionalis,” kata Usman salah seorang warga Desa Tetewatu Kecamatan Lilirilau kepada Breaking SulSel Rabu (14/7) kemarin.

Senada yang dilontarkan Ilyas Majid warga Lajoa kelurahan jennae Kecamatan Liliriaja mengatakan. Merujuk pada hasil pembicaraan sesama warga tersebut, banyak kalangan melihat bahwa H. Rusman berpotensi mengulang fenomena “kuda hitam” kompatiter baru pada Pilkada 2024 mendatang, seperti Demokrat pada Pemilu 2004 serta Gerindra dan Hanura pada Pemilu 2009 lalu. Terlepas dari perkembangan terakhir di internal Nasdem -terutama munculnya nama H. Rusman dari partai ini- ada pertanyaan mendasar yang penting untuk didiskusikan, yaitu apa sebenarnya yang menyebabkan fenomena “kuda hitam” ini mungkin terjadi? ujarnya

Apa yang bisa kita refleksikan dari fenomena kuda hitam ini terkait pelembagaan kepartaian dan sistem kepartaian kita? Pertama, lapisan pendukung loyal parpol sangat tipis. Rendahnya partisanship ini disebabkan kecenderungan parpol yang mendorong elektabilitas dengan mengandalkan figur. Pengalaman memilih berkali-kali dalam pemilu ternyata tidak dengan sendirinya menginternalisasikan identifikasi pemilih terhadap parpol. Hal ini membuat risiko parpol untuk kehilangan suara secara signifikan pada setiap kali pemilu menjadi besar.

Keduapartisanship yang rendah menaikkan prospek parpol-parpol baru untuk dipilih. Tanpa pengaturan dan penataan yang baik, ini merupakan insentif bagi pembentukan parpol-parpol baru. Dalam konteks ini, kita memahami mengapa sebagian elite politik kita cenderung gemar membentuk parpol baru.

Ketiga, fenomena kuda hitam bukan sama sekali baru dan sangat mungkin akan terus kita temui, tidak hanya di 2014. Fenomena ini merefleksikan baik problematik pelembagakan kepartaian dan sistem kepartaian kita. Ini bukan semata soal “siapa” tetapi -lebih penting dari soal itu- juga soal “mengapa”. (Redaksi)

Breakingsulsel soppeng

Read Previous

Andi Mapparemma Diprediksi Kuat Memenangkan Pilkada Soppeng Mendatang

Read Next

Kecelakaan Maut Di Soppeng Renggut 2 Nyawa Bocah