Berawal dari Mimpi, Jumaldi Bakri Sulap Mattabulu Jadi Desa Wisata

Soppeng, Breaking SulSel.Co.Id — Desa wisata merupakan salah satu program pengembangan wisata yang sedang difokuskan oleh pemerintah saat ini.

Hal itu pula yang membuat hampir di setiap desa di Indonesia kini tengah berlomba-lomba untuk mengembangkan desanya menjadi sebuah destinasi wisata.

Dari sekian banyak desa wisata di Indonesia, satu desa yang mencuri perhatian ialah masyarakat luas, ialah Desa Wisata Mattabulu yang berada di Kecamatan Lalabata, Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan.

Ciri khas desa ini yang sebelumnya selalu diidentikkan dengan hutan lebat, pegunungan karena memang Desa Mattabulu berada diketinggian 1000 MdPL dari permukaan laut, keterbelakangan, dan kekumuhan, kini berubah total.

Ialah Jumaldi Bakri, S.Sos, Kepala Desa Mattabulu yang memberanikan diri untuk mendobrak dan menjadikan desa yang terkenal dengan kegersangannya tersebut menjadi sebuah tempat untuk berkreasi serta beredukasi.

Jumaldi menceritakan bahwa dibangunnya Desa Wisata berawal dari mimpinya di tahun 2012. Kala itu Jumaldi memulai menjadi menjabat sebagai kepala desa.

“Berawal dari mimpi bersama kemudian di tahun 2018 saya jadi kepala Desa di priode kedua, lalu mimpi mewujudkan desa wisata. Saya tuangkan dalam visi dan misi saya pada pembangunan Desa Wisata Mattabulu,” ungkap dia saat berbincang dengan Breaking SulSel.Co.Id, Kamis (22/4/2021).

Jumaldi juga melanjutkan kala itu, ada gerakan dari pemerintah desa beserta warga terutama para pemuda untuk memetakan potensi wisata. Jumaldi mengaku bersyukur para pemuda mau belajar dan berinovasi dalam pembangunan desa wisata tersebut.

“Awalnya susah karena masyarakat tidak paham sama sekali terkait desa wisata. Perlu ada contoh dari pemerintah desa. Saya pun mengakui tantangannya adalah SDM masyarakat desa,” beber dia.

Jumaldi menjelaskan, konsep desa wisata ini sendiri tidak merubah tatanan dan sistem perekonomian di desa. Hal itu lantaran konsep desa wisata ini malah memahamkan tanpa mengubah kegiatan ekonomi yang sudah berjalan.

Plusnya, lanjut Jumaldi, masyarakat banyak belajar tentang Sapta Pesona yang mencakup aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah semenjak pembangunan desa wisata ini.

“Inilah model pembangunan yang lebih menitik beratkan pada pemanfaatan potensi desa dan pemberdayaan masyarakat. Sehingga bisa berjalan hingga saat ini,” tandas dia. (Haerul.S Duga/Redaksi)

breaking sulsel

Read Previous

114 KPM Desa Watu Toa Terima BLT – DD

Read Next

Wakil Bupati Soppeng Pimpin Rapat Pencegahan Penyebaran Covid-19