BUDAYA TABE’ KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT SULAWESI SELATAN YANG PERLAHAN MULAI TERGERUS OLEH WAKTU

 

Oleh:

ASRIANI, S.Pd.

(Guru SMPN 2 Watansoppeng)

 

 

  1. PENDAHULUAN
  2. Latar Belakang

TABE’ (permisi) merupakan budaya yang sangat indah yang ditinggalkan oleh leluhur, yang mewariskan sopan santun yang tidak hanya melalui ucapan tetapi juga dengan gerak. Bagaimanapun itu, hal ini perlu tetap dijaga karena tidak hanya diperuntukkan kepada yang muda melakukan ke yang lebih tua tetapi juga sebaliknya.

Realita Saat Ini adalah budaya tabe’  perlahan-lahan mulai luntur dalam masyarakat, khususnya pada kalangan anak-anak dan remaja. Mereka tidak lagi memiliki sikap tabe’ dalam dirinya. Entah karena orangtua mereka tidak mengajarkannya atau memang karena kontaminasi budaya Barat yang menghilangkan budaya tabe’ ini. Mereka tidak lagi menghargai orang yang lebih tua dari mereka. Mereka melewati tanpa permisi, bahkan yang sering saya temukan banyak anak-anak yang memakai kata ‘BROO’ untuk menyapa orang yang lebih tua dari mereka, bahkan kepada orangtua mereka sendiri. Padahal sopan santun itu jika digunakan akan mencegah banyak keributan, akan mencegah terjadi pertengkaran dan akan mempererat rasa persaudaraan. Bahkan jika budaya tabe diterapkan dalam masyarakat maka tidak ada egosentris yang memicu konflik seperti tawuran pelajar, perang antar saudara, dan jika dikerucutkan kewilayah peserta didik, anak-anak yang mengenal budaya tabe’ akan berperilaku sopan dan tidak mengganggu temannya.

Tata krama ataupun sopan santun hendaknya tidak hilang dalam diri kita. Orang yang sopan akan disenangi oleh orang lain. Oleh karena itu sangat penting mengajarkan budaya tabe’ melalui pola asuhan keluarga, sekolah dan lingkungan bermain. Karena sopan santun itu tidak mahal, tidak mengeluarkan banyak biaya. Seorang kakak, ajarkan kepada adiknya untuk berbuat sopan santun. Tentunya seorang guru, maka wajib untuk mengajarkan kepada anak didiknya untuk mengajarkan sopan santun karena sekolah adalah gerbang dari watak seseorang.

2.Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah:

  1. Apakah filosofi budaya Tabe’?
  2. Bagaimana pola asuhan dan penerapan budaya tabe’ dalam kehidupan masyarakat bugis?
  3. Untuk apa budaya tabe’ diterapkan?

3.Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui filosofi budaya tabe’.
  2. Untuk mengetahui pola asuhan dan penerapan budaya tabe’ dalam masyarakat bugis.
  3. Untuk mengetahu nilai- nilai yang terkandung dalam budaya tabe”.
  4. Pembahasan
  5. Filosofi Budaya Tabe Dalam Masyarakat Bugis

Kebudayaan didefenisikan pertama kali oleh EB. Taylor pada tahun 1871 di mana dalam bukunya Primitive Culture, kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Yang menjadi dasar dari kebudayaan adalah nilai. Di samping nilai ini kebudayaan diwujudkan dalam bentuk tata hidup yang merupakan kegiatan manusia yang mencerminkan nilai budaya yang di kandungnya. Pada dasarnya tata hidup merupakan pencerminan yang konkret dari nilai budaya yang bersifat abstrak: kegiatan manusia ini dapat ditangkap oleh panca indera sedangkan nilai budaya hanya tertangguk oleh budi manusia. Di samping itu nilai budaya dan tata hidup manusia ditopang oleh sarana kebudayaan.

Salah satu kebudayaan bugis yang mengajarkan cara hidup adalahPangaderreng. Pangaderreng adalah sistem norma dan aturan-aturan adat. Dalam keseharian suku bugis, pangaderreng sudah menjadi kebiasaan dalam berinteraksi dengan orang lain yang harus dijunjung tinggi.Salah satu pangaderreng dalam suku bugis dikenal dengan budaya tabe’.

Tabe’ adalah minta permisi untuk melewati arah orang lain, dengan kata-kata “tabe”. kata tabe tersebut diikuti gerakan tangan kanan turun kebawah mengarah ketanah atau ketanah. makna dari perilaku orang bugis seperti demikian adalah bahwa katatabe  simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang dihadapan kita, kita tidak boleh berbuat sekehendak hati.

Makna lain dari budaya tabe’ adalah satunya kata dan perbuatan (Taro Ada Taro Gau),bahwa orang bugis dalam kehidupan sehari-hari harus berbuat sesuai dengan perkataan. Antara kata tabe dan gerakan tubuh (tangan kanan) harus seiring dan sejalan. sehingga suatu pemaknaan yang dalam orang bugis jauh lebih dalam lagi.

Rumusan Sikap tabe’ adalah serupa dengan sikap mohon ijin atau mohon permisi ketika hendak melewati orang-orang yang sedang duduk berjajar terutama bila yang dilewati adalah orang-orang yang usianya lebih tua ataupun dituakan. Sikap tabe’ dilakukan dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman, setelah itu mulai berjalan sambil sedikit menundukkan badan dan meluruskan tangan disamping lutut. Sikap tabe’ dimaksudkan sebagai penghormatan kepada orang lain yang mungkin saja akan terganggu akibat perbuatan kita meskipun kita tidak bermaksud demikian. Mereka yang mengerti tentang nilai luhur dalam budaya tabe’ ini biasanya juga akan langsung merespon dengan memberikan ruang seperti menarik kaki yang bisa saja akan menghalangi atau bahkan terinjak orang yang lewat, membalas senyuman, memberikan anggukan hingga memberikan jawaban “ye, de’ megaga” (bahasa bugis) atau dapat diartikan sebagai “iya tidak apa-apa” atau “silahkan lewat”.

Sekilas sikap tabe’ terlihat sepele, namun hal ini sangat penting dalam tata krama masyarakat di daerah Sulawesi Selatan khususnya pada Suku Bugis. Sikap tabe’ dapat memunculkan rasa keakraban meskipun sebelumnya tidak pernah bertemu atau tidak saling kenal. Apabila ada yang melewati orang lain yang sedang duduk sejajar tanpa sikap tabe’ maka yang bersangkutan akan dianggap tidak mengerti adat sopan santun atau tata krama.

Bila yang melakukannya adalah anak-anak atau masih muda, maka orang tuanya akan dianggap tidak mengajari anaknya sopan santun. Oleh karena itu biasanya orang tua yang melihat anaknya yang melewati orang lain tanpa sikap tabe’ akan langsung menegur sang anak langsung di depan umum atau orang lain yang dilewati, sebagaimana yang dilakukan ayah dan ibu yang menegur saya saat tidak bersikap tabe’ kala melewati tamu yang sedang duduk di lantai.

2.Implementasi Tabe’ Sebagai Tata Krama Masyarakat Bugis

  1. Tabe’ sebagai pola asuhan

Pola berarti corak, model, atau cara kerja, sedangkan asuh berarti menjaga, mendidik, membimbing dan memimpin. Jadi pola asuhan dalam budaya tabe adalah pengasuhan dengan menampilkan orang tua sebagai model yang mengargai, menghormati, dan mengingatkakan, memimpin sesuai dengan budaya tabe yaitu sopan mendidik anak, sehingga mencertak anak yang berkarakter sopan pula. Sebenarnya, budaya tabe’ berperan besar dalam pembentukan karakter anak dalam perkembangan sifat santun dan hormat. Oleh karena mangaktualkan sikap tabe’ ini dalam menghormati orang yang lebih tua demi nilai etika dan budaya yang harus diingat. Sebab tabe’ merupakan sejenis kecerdasan sikap yang memungkinkan terbentuknya nilai-nilai luhur bangsa atas anak didik atau generasi muda.

Tabe menurut orang bugis merupakan nilai budaya yang sudah menjadi sebuah karakter yang sarat dengan muatan pendidikan yang memiliki makna anjuran untuk berbuat baik, bertata krama melalui ucapan maupun gerak tubuh. Pola asuhan keluarga sangat mempengaruhi keawetan budaya tabe’ dalam masyarakat bugis. Didikan keluarga akan mencetak generasi yang beradat, sopan, dan saling menghargai.

  1. Implementasi Tabe Dalam kehidupan sehari hari masyarakat bugis

Menerapkan budaya tabe dengan implementasi makna konseptual yaitu: tidak menyeret sandal atau menghentakkan kaki, tetapi dengan mengucapkan salam atau menyapa dengan sopan, juga bahwa sikap tabe adalah permohonan untuk melintas. Tabe mengoptimasi untuk tidak berkacak pinggang, dan tidak usil mengganggu orang lain. Tabe berakar sangat kuat sebagai etika dalam tradisi atau sama halnya seperti pelajaran dalam hidup yang didasarkan pada akal sehat dan rasa hormaat terhadap sesama.

Budaya tabe’ sesunggunya sangat tepat diterapkan dalam kehidupan sehari–hari, terutama dalam mendidik anak dengan cara mengajarkan hal–hal yang berhubungan dengan akhlak sesama, seperti mengucapkan tabe’ (permisi) sambil berbungkuk setengah badan bila lewat di depan sekumpulan orang-orang tua yang sedang bercerita, mengucapkan iyé’ (dalam bahasa Jawa nggih), jika menjawab pertanyaan sebelum mengutarakan alasan, ramah, dan menghargai orang yang lebih tua serta menyayangi yang muda. Inilah di antaranya ajaran–ajaran suku Bugis sesungguhnya yang termuat dalam Lontara‘ yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari–hari oleh masyarakat Bugis.

c.Nilai-Nilai yang Terkandung Dalam Budaya Tabe’

Pembangunan insan yang berbudaya dan bermoral dapat dikembangkan melalui pelestrarian nilai-nilai luhur dalam budaya tabe’. Adapun nilai-nilai luhur yang terkandung dalam budaya tabe adalah yang dikenal dengan falsafah 3-S[1]sebagai berikut:

  1. Sipakatau: mengakui segala hak tanpa memandang status social Ini bisa juga diartikan sebagai rasa kepedulian sesama.
  2. Sipakalebbi: sikap hormat terhadap sesama, senantiasa memperlakukan orang dengan baik. Budaya tabe menunjukkan bahwa yang ditabe’ki dan yang men’tabe adalah sama-sama tau (orang) yang dipakalebbi.
  3. Sipakainge: tuntunan bagi masyarakat bugis untuk saling mengingatkan.

Demikianlah kearifan lokal masyarakat bugis, sangat sederhana memang, namun memiliki makna yang mendalam agar kita saling menghormati dan tidak mengganggu satu sama lainnya. Daerah-daerah lainnya di Indonesia juga memiliki budaya yang serupa. Budaya luhur dan kearifan lokal seperti ini sangat perlu dilestarikan baik dengan mengajarkannya kepada anak-anak dan generasi muda. Kearifan lokal yang terus dipertahankan akan menjadi jati diri kita sebagai bangsa Indonesia yang memiliki budaya dan nilai-nilai luhur.

  1. PENUTUP
  2. Simpulan

Budayatabe  merupakan simbol dari upaya menghargai dan menghormati siapapun orang dihadapan kita, kita tidak boleh berbuat sekehendak hati. kata tabe tersebut diikuti gerakan tangan kanan turun kebawah mengarah ketanah atau ketanah, dengan melihat pada orang-orang yang dilewati lalu memberikan senyuman, setelah itu mulai berjalan sambil sedikit menundukkan badan dan meluruskan tangan disamping lutut. Nilai yang terkandung dalam budaya tabe adalah, sipakatau (tidak membeda-bedakan semua orang), sipakalebbi (saling menghormati), sipakainge (saling mengingatkan).

B.Saran

Budaya tabe merupakan nilai lokalitas dan nilai luhur yang sangat tinggi sehingga harus dilestarikan untuk menopang kehidupan yang lebih baik serta tidak hanyut sebagai danpak modernisasi.

DAFTAR RUJUKAN

http://www.angingmamiri.org/www.nusantara online.com. dikases rabu, 10 Desember, 02.30 WIB

 

Koentjaraningrat. (2010). Manusia dan kebudayaan di indonesia. Jakarta:djambatan. H.277

 

Ningsih, kidding Elvirah.2012. Vhychocolatenurse.blogspot.com. diakses, rabu 10 Desember, 01.05 WIB

 

Suriasumantri, jujun. S.(2005) Filsafat ilmu. Jakarta: pustaka sinar harapan. H.261

breaking sulsel

Read Previous

Kaswadi. Sektor Pertanian Paling Besar Berkontribusi Pada PDRB

Read Next

JANGAN BIARKAN SISWA KITA DIDIDIK OLEH MEDIA SOSIAL (MEDSOS)

One Comment

  • Ijin share gang

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *